Showing posts with label Mari berfikir dan merenung.... Show all posts
Showing posts with label Mari berfikir dan merenung.... Show all posts

Monday, July 25, 2011

Isteri, Ibu dan Anak.

Ingat. Menjadi isteri biarlah yg menyenangkan dan sentiasa menyokong dan menghormati kedudukan suami. Tatkala berlaku hukum agama yg dilanggari, maka itu masanya isteri perlu mempertahan diri. Taat itu perlu didefinisikan semula.

Ingat. Menjadi ibu biarlah yg memahami dan sedia memaafkan. Memohon maaf bukan kesalahan. Dan berbicaralah dgn puteraputeri mu agar dirimu bisa diletak sebelah dgn mereka. Doa mu sbg ibu paling diperlukan puteraputeri mu.

Ingat. Menjadi isteri dan ibu tidak pernah melepas tanggungjawab mu sbg anak. Selagi nyawa terkandung badan, dan  hukum agama tidak dilangkaui maka anak itu wajib mentaati.

Isteri, Ibu dan Anak ada dalam satu jasad seorang wanita. Namun dia tetap manusia biasa. Yang perlu dihormati, disayangi, dihargai dan difahami. Allahuakbar. Bantulah hati wanita ini semoga tidak dgn tingkahnya redhaMu terjauhkan. Amin.

p/s: Saya masih berjalan bertatih-tatih.

Saturday, June 19, 2010

Ini ceritanya..."Dzun Nun dan tukang emas"...

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang masyhur bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya : “Tuan, saya belum faham mengapa orang seperti anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman yang ini berpakaian baik amat perlu, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain.” Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata : “Sahabat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cubalah, bolehkah kamu menjualnya seharga satu keping emas”.
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu dan berkata : “Satu keping emas ? Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu”. “Cubalah dulu sahabat muda. Siapa tahu kamu berhasil”, jawab Zun-Nun.
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga satu keping emas. Mereka menawarnya hanya satu keping perak.

Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga satu keping perak. Ia kembali kepada Zun-Nun dan memberitahunya : “Tuan, tak seorang pun yang berani menawar lebih dari satu keping perak”.

Sambil tetap tersenyum arif Zun-Nun berkata : “Sekarang pergilah kamu ke tokoh emas di belakang jalan ini. Cuba perlihatkan kepada pemilik tokoh atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana ia memberikan penilaian”.

Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian memberitahu : “Tuan, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh para pedagang di pasar”.

Zun-Nun tersenyum simpul sambil berkata : “Itulah jawapan atas pertanyaanmu tadi sahabat muda. Seseorang tak boleh dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”. Emas dan permata yang ada dalam diri seseorang, hanya dapat dilihat dan dinilai jika kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan itu perlu proses dan masa, wahai sahabat mudaku. Kita tak dapat menilainya hanya dengan tutur kata dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas ternyata loyang dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata emas.”
  

Kerana Dia Manusia Biasa...

Saya tidaklah terlalu merasakan bahawa situasi lamaran ini sgt suwit atau ape...cume saya melihat pd satu sisi yg lain yg mana apabila seorang lelaki mengetahui akan tanggungjawabnya sendiri...pada isteri, ank2 dan keluarga induknya sendiri...itu adalah calon suami yg baik kan...saya tdaklah meminta die utk menjadi superhero saya, atau menjadi org terkaya dlm dunia nih, ataupon menjadi seorg yg sgt prince charming ensemnya...ckuplah die itu hanya manusia biasa kerana saya juga adalah manusia biasa...bukan superheroin, bukan ank jutawan, dan juge bkn princess yg sgt cantik dan digilai ramai...itulah pelengkap hidup saya...kan...?kan?
 Semoga bermanfaat...baik utk yang melamar ataupun yg dilamar, ataupun bagi yang sudah berumah tangga....

Renungan buat yang sedang mencari pasangan hidup ataupun yang sedang mengemudi bahtera rumah tangga..
Mengapa? Kerana Dia Manusia Biasa.... 

Kerana Dia Manusia Biasa ..   
 

Setiap kali ada sahabat yang ingin menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suami/isterimu? Jawabannya ada bermacam-macam. Bermula dengan jawaban kerana Allah hinggalah  jawaban duniawi. 

Tapi ada satu jawaban yang sangat menyentuh di hati saya. Hingga saat ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban dari salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Kemudian membuat keputusan menikah. Persiapan pernikahan mereka hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak hairan. Proses pernikahan seperti ini selalu dilakukan. Dia bukanlah akhwat, sebagaimana saya. Satu hal yang pasti, dia jenis wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. 

Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sukar untuk membuka hati. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menganggapnya serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi. 

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tarikh pernikahannya. Serta meminta saya untuk memohon cuti, agar dapat menemaninya semasa majlis pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Sebenarnya....!!!

Saya ingin tau, kenapa dia begitu mudah menerima lelaki itu. Ada apakah gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia boleh memutuskan untuk bernikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk ketika itu (benar-benar sibuk). 

Saya tidak dapat membantunya mempersiapkan keperluan pernikahan. Beberapa kali dia menelefon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa perkara. Beberapa kali saya telefon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's all......Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing. 

Saya menggambil cuti 2 hari sebelum pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya.

Pukul 11 malam sehari sebelum pernikahannya, baru kami dapat berbual -hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kami. Pada awalnya kami ingin  berbual tentang banyak hal. 

Akhirnya, dapat juga kami berbual berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak perkara kepada saya. Beberapa kali Mamanya mengetok pintu, meminta kami tidur.

"Aku tak boleh tidur." Dia memandang saya dengan wajah bersahaja. Saya faham keadaanya ketika ini. 

"Matikan saja lampunya, biar disangka kita dah tidur."

"Ya.. ya." Dia mematikan lampu neon bilik dan menggantinya dengan lampu yang samar. Kami meneruskan perbualan secara berbisik-bisik. 

Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kami lakukan. Kami berbual banyak perkara, tentang masa lalu dan impian-impian kami. Wajah keriangannya nampak jelas dalam kesamaran. Memunculkan aura cinta yang menerangi bilik ketika itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini saya pendamkan. 

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari baringnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Perlahan dia membuka laci meja hiasnya. Dengan bantuan lampu LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya. 

Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan sekeping envelop kepada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Envelop putih panjang dengan cop surat syarikat tempat calon suaminya bekerja. Apa ni. Saya melihatnya tanpa mengerti. Eeh..., dia malah ketawa geli hati. 

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas putih bersaiz A4, saya melihat warnanya putih. Hehehehehehe........

"Teruknya dia ni." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia cuma ketawa melihat ekspresi saya. Saya mula membacanya.Saya membaca satu kalimat diatas, dibarisan paling atas.  Dan sampai saat inipun saya masih hafal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu…...... 


***
Kepada Yth ......... 

Calon isteri saya, calon ibu anak-anak saya, calon menantu Ibu saya dan calon kakak buat adik-adik saya

Assalamu'alaikum Wr Wb

Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silakan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. 

Saya, yang bernama ............... menginginkan anda ............... untuk menjadi isteri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Buat masa ini saya mempunyai pekerjaan. 

Tetapi saya tidak tahu apakah kemudiannya saya akan tetap bekerja. Tapi yang pasti saya akan berusaha  mendapatkan rezeki untuk mencukupi keperluan isteri dan anak-anakku kelak. 

Saya memang masih menyewa rumah. Dan saya tidak tahu apakah kemudiannya akan terus menyewa selamannya. Yang pasti, saya akan tetap berusaha agar isteri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.

Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. 

Oleh kerana itu. Saya menginginkan anda supaya membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa.

Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Kerana saya tidak tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. 

Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqarah berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. 

Yang saya tahu, Saya memilih anda kerana Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari sekarang ini. 

Saya memohon anda sholat istiqarah dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya beri masa minima 1 minggu, maksima 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin

Wassalamu'alaikum Wr Wb 


***
 
Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah.

Sederhana, jujur dan realistik. Tanpa janji-janji yang melambung dan kata yang berbunga-bunga. Surat cinta biasa. 

Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia......?"

"Kerana dia manusia biasa......." Dia menjawab mantap. "Dia sedar bahawa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. 

Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kami kemudian hari. Entah kenapa, justru itu  memberikan kesenangan tersendiri buat aku." 

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. betuI tak? Paling tidak.... Aku tau bahawa dia tidak akan frust kalau suatu masa nanti kami jadi miskin. 

"Ssttt......." Saya menutup mulutnya. Khuatir kalu ada yang tau kami belum tidur. Terdiam kami memasang telinga.

Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kami saling berpandangan lalu gelak sambil menutup mulut masing-masing. 

"Udah tidur. Besok kamu mengantuk, aku pula yang dimarahi Mama." Kami kembali berbaring. Tapi mata ini tidak boleh pejam. Percakapan kami tadi masih terngiang terus ditelinga saya.

"Gik.....?" 

"Tidur...... Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia kelihatan cantik besok pagi. Rasa mengantuk saya telah hilang, rasanya tidak akan tidur semalaman ini.

Satu lagi pelajaran dari pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sedar dengan kemanusiannya. Sedar bahawa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitu juga dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah terpahat sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. 

Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tetapi sebuah 'proses usaha'. Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'.

Status diri yang selama ini melekat dan dibanggakan (aku anak orang ini/itu), ditanggalkan. 

Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi kerana Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan segalanya pada Allah yang membuat senarionya. 

Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap HambaNYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan.

Kita hanya boleh memohon keridhoan Allah. MemintaNYA mengurniakan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah.   
Jadi, bagaimana dengan cinta? 

Ibu saya pernah berkata, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya.

Agar cinta itu dapat bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Cinta tumbuh kerana suami/isteri (belahan jiwa). 

Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Amin.

Wallahu 'alam

Wednesday, March 31, 2010

Apakah yang ingin dikhabarkan Tuhan pd kita semua?

Kebelakangan ini, kalau tengok akhbar-akhbar rasmi negara, pasti akan ada banyak kes-kes yang dipaparkan berkisar tentang pembuangan bayi..Terasa nak pecah perut, bergelodak usah cakap lah...Beberapa hari yang lepas, ada kes bayi yang dibuang sampai digonggong anjing...Kebetulan menelek akhbar ketika itu, saya sedang mengunyah makanan...Aaahhh...Faham-faham saja lah apa perasaan itu bila lihat imej yang memperlihatkan sebahagian anggota bayi itu telah 'selamat dibawa lari' anjing tersebut... Bukan niat mahu menghinakan bayi tersebut...ternyata arwah tak pernah bersalah..Dia lahir ke dunia tanpa sempat dia mengenali siapa insan yang mengandungkannya..Insan yang sepatutnya mulia dan tinggi martabatnya..Tapi apa yang berlaku? Sampai begini akhirnya kisah singkat hidup bayi itu...Pagi ini sedang saya membelek akhbar secara atas talian, ada lagi kes bayi yang terpaksa melalui kisah sedihnya..Kali ini janin berusia 4 bulan (lebih kurang) ditemui dalam balang gula-gula!! Apakah?? Imej Paparannya?sila klik sini.. Apa jua pun niat dan tujuan pelaku kejam ini, saya tak rasa perlakuannya boleh diterima. Ini bukanlah niat mahu menghukum awal akan perilaku manusia tersebut..Tapi fikirkanlah ya.. Sedang si ibu kucing pun tahu nak selamatkan anak-anak yang lahirnya dalam satu-satu masa mahu cecah 5 ekor..Inikan pula seorang manusia yg lazimnya hanya melahirkan seorang anak...Naluri keibuan itu ke mana? Ya Tuhan....Apakah yang mahu dikhabarkan pada kami sekalian manusia ini, Tuhan.....?

Dua hari yang lepas, sahabat-sahabat jihad di Moscow mengkhabarkan ada berlaku letupan dari pengebom berani mati di stesen keretapi di sana. Hampir 40 orang terbunuh dan beberapa lagi cedera. Melihat gambar dari akhbar tempatan ekoran kejadian itu, saya dapat merasakan dan membayangkan bahawa betapa kacau bilaunya keadaan di sana ketika itu. apa yang menarik perhatian saya sekarang ini, natijah slpas kejadian itu, kebanyakan wanita Muslim di sana sedang diancam dan berada dalam kebimbangan kerana dipercayai pengebom berani mati itu adalah dua orang wanita Muslim. Prejudis terhadap wanita bertudung semakin menjadi-jadi di sana. Pelajar-pelajar perubatan di sana ada yang bercerita, ketika di dalam tren dan berjaya mendapat tempat kosong untuk diduduki, seorang wanita yang asalnya telah duduk di sebelahnya terus angkat punggung. Yaa... Saya tak salahkan wanita tersebut... Isu itu masih panas dan sikap sebegitu pasti akan timbul secara automatik. Mereka juga merisaukan keselamatan mereka. Benar, pelajar perempuan tersebut juga terkilan dengan reaksi makcik tersebut kerana merasakan akibat setitik nila, abis semua susu sebelanga sudah dirosakkan... Sekali lagi dunia Islam diancam kesuciannya... Sekali lagi prejudis terhadap Muslimin Muslimat seluruh dunia dipaksa untuk wujud dalam diri setiap manusia di muka bumi ini. Dan sekali lagi, kewajipan bertudung dan menutup aurat dinilai tanpa kefahaman yang sebenar akan kewajipannya...Apakah yang ingin Tuhan khabarkan pada kita semua? Bukalah minda dan tanyalah iman kalian semua... Buat sahabat-sahabat di Moscow yang berjihad di jalan Allah dalam usaha menuntut ilmu, bersabarlah kalian dan jagalah diri baik-baik. Mudah-mudahan isu ini cepat selesai dan tiada lagi kebimbangan itu membelenggu diri kalian...InsyaAllah, amin...

"Dunia semakin banyak isunya...Apakah yang Tuhan ingin sampaikan pada kita semua? Ya Allah, bantulah hamba-hambaMu mempertahankan keimanan ini ya Tuhan..."

Berbicaralah..Jgn sampai badanmu berbalar...

Mulut mmg mudah melempar kata
Kadang sedang terasa 
Diri di pihak benar semua terhamburkan
Tapi perasanlah bahawa ada ketikanya
Dalam menegakkan kebenaran yg diyakini itu
Ada hati yang mungkin terluka
Di mana letak nilai kebenaran jika sampai melukakan?
Namun berbicaralah sbgamana itu hak kamu,
Tp harus diingat,
Usah sampai zahirmu berbalar...~ 

"Depankan akal fikiran sebelum suara kata-katamu..."

Wednesday, March 24, 2010

Give Thanks....

For the wife who says "it's mee goreng again tonight", because she is home with me and not out gallivanting with someone else.

For the husband who is on the sofa being a couch potato, because he is home with me and not out at the bars drinking or playing poker with his cronies.

For the teenager who is complaining about doing dishes because it means she is at home, not on the street.

For the taxes I pay, because it means I am employed.

For the mess to clean after a party because it means I have been surrounded by friends.

For the clothing that I fit a little too snugly because it means I have enough to eat.

For my shadow that watches me work because it means I am out in the sunshine.

For a lawn that needs mowing, windows that need cleaning, and gutters that need fixing because it means I have a home.

For all the complaining I hear about the government because it means we have freedom of speech.

For the parking spot I found at the far end of the parking lot because it means I am capable of walking and have been blessed with transportation.

For my huge electric bill because it means I am comfortable and happy.

For the lady behind me in class who sings off-key because it means I can hear.

For the pile of laundry and ironing because it means I have clothing to wear.

For the weariness and aching muscles at the end of the day because it means I have been capable of working hard.

For the alarm that goes off in the early morning hours because it means I am alive... 

[taken from; "He who Laughs, Last!" - David Tong (2009)]